Jumat, 28 September 2012

Teuku Mudafarsyah Pimpin RAPI Baiturrahman

Senin, 24 September 2012 09:26 WIB

240912foto_9.jpg
Ketua RAPI Kota Banda Aceh, TAF Haikal (kiri) melantik Pengurus RAPI Kecamatan Baiturrahman diketuai Teuku Mudafarsyah (kanan) di Aula Balai Kota Banda Aceh, Sabtu (23/9)
BANDA ACEH - Komunitas relawan komunikasi yang bernaung di bawah wadah organisasi Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, Minggu (23/9) melaksanakan Musyawarah Kecamatan (Muscam) II di Aula Balai Kota Banda Aceh. Melalui muscam tersebut terpilih Teuku Mudafarsyah (JZ01BHM) sebagai ketua periode 2012-2014 menggantikan Saiful Bintang (JZ01BSB).

Dalam prosesi Muscam II, terjaring dua calon ketua, yaitu Azhari (JZ01BIZ) dan Teuku Mudafarsyah (JZ01BHM). Pada tahap pemilihan ketua, Teuku Mudafarsyah mengumpulkan 19 suara sedangkan Azhari 18 suara.

Muscam II RAPI Kecamatan Baiturrahman dibuka Sekcam Baiturrahman dihadiri Kapolsek AKP Abdul Muthalib SE MM serta yang mewakili Danramil Baiturrahman. Pelantikan Pengurus RAPI Baiturrahman periode 2012-2014 dilakukan Ketua RAPI Kota Banda Aceh, TAF Haikal (JZ01BTH).

Kepengurusan periode 2012-2014 RAPI Kecamatan Baiturrahman terdiri unsur Dewan Pengawas dan Penasehat masing-masing Ir Buni Amin (JZ01ABA), Ir M Arfiansyah (JZ01BY), Ir Iswar (JZ01BI), Rusdi ST (JZ01BOZ), dan Noerdin MT (JZ01BDN).

Di jajaran pengurus harian, Teuku Mudafarsyah sebagai ketua dibantu Azhari sebagai wakil ketua. Sekretaris Al Faisal (JZ01BBF), dan Bendahara Nurhayati (JZ01BN).

Kepengurusan itu dilengkapi Seksi Manajemen Organisasi diketuai Muhammad Isa (JZ01BTS), Seksi Koordinasi Antar-anggota diketuai M Rasmudi (JZ01BLA), Seksi Personalia & SDM diketuai Safrijal Juanda (JZ01BJN), Seksi Monitoring dan Evaluasi Organisasi diketuai Zamzami (JZ01AMI), Seksi Hubungan Kerja Antar-institusi Kecamatan dan Kemasyarakatan diketuai Syarifuddin (JZ01BLH), dan Ketua Seksi Publikasi dan Operasional Kecamatan Iskandar (JZ01BG).(nas)


http://aceh.tribunnews.com/2012/09/24/teuku-mudafarsyah-pimpin-rapi-baiturrahman

Rabu, 19 September 2012

Berharap Sepmor Modifikasi untuk Mengajar Ngaji

Senin, 17 September 2012 10:03 WIB
HINGGA kini impian Arnas (35) untuk memiliki sepeda motor (sepmor) yang dirancang khusus (modifikasi) untuk penyandang cacat masih sebatas mimpi. Padahal dengan sepmor khusus itu Arnas yakin mampu mencari nafkah sebagai pedagang keliling guna menafkahi keluarga termasuk melakukan aktivitas sosial dan ibadah, seperti mengajar ngaji anak-anak di kampungnya, Dusun Nilam, Gampong Air Pinang, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan.

Sejak 18 September 2008, Arnas ditakdirkan harus menjalani hari-hari pilu dan penuh duka. Ayah satu putra dan satu putri ini hanya bisa duduk di kursi roda atau rebahan di tempat tidur akibat kedua kakinya tak bisa difungsikan setelah terjatuh dari pohon pala saat mengambil upahan memetik pala orang sekitar empat tahun lalu.

“Saya terjatuh dari ketinggian sekitar 5 meter. Tulang pangkal paha saya copot. Kedua kaki saya tak bisa digerakkan apalagi berdiri. Sudah berobat kemana-mana namun belum juga sembuh,” ujar Arnas didampingi istrinya, Ernawati ketika bincang-bincang dengan Serambi di rumahnya, beberapa waktu lalu.

Sejak Arnas sakit, sang istri harus mengambil alih mencari nafkah dengan menjadi tukang cuci pakaian orang. Pendapatannya hanya cukup untuk makan pas-pasan dan jajan anak-anaknya yang sedang dalam pendidikan. Anak tertuanya, Surahus Riana (12) kini duduk di kelas II SMP 2 Tapaktuan sedangkan adiknya, Surya Hidayat (7) masih di kelas I MIN Air Pinang. “Sering kami tak makan dan anak-anak saya sering juga tak bisa sekolah karena tak ada uang,” ujar Arnas sambil meneteskan air mata.

Dalam kondisi tak berdaya seperti itu, Arnas tetap berharap bisa menafkahi keluarga termasuk membiayai pendidikan kedua anaknya. Dia juga sangat merindukan bisa melaksanakan ibadah dengan baik, bahkan mengajar ngaji anak-anak di kampungnya yang memang menjadi salah satu profesinya di masyarakat. “Saya selalu memimpikan bisa memiliki sepmor modifikasi untuk berdagang keliling. Dengan kendaraan itu saya juga bisa melakukan aktivitas sosial termasuk mengajar ngaji anak-anak di kampung,” ujar Arnas dibenarkan istrinya.

Usaha Arnas dan istrinya untuk mewujudkan impian tak pernah berhenti. Melalui seorang tokoh muda Aceh Selatan di Banda Aceh, TAF Haikal, Arnas melayangkan sepucuk surat ke Dinas Sosial (Dinsos) Aceh. Harapannya, ya itu tadi, berharap Pemerintah Aceh melalui Dinsos memfasilitasi dirinya dengan sepeda motor modifikasi. Semoga mimpi Arnas tak lagi sebatas mimpi.

Kepala Bidang Bantuan dan Jaminan Sosial (Banjamsos) Dinsos Aceh, Drs Burhanuddin Usman, yang ditanyai Serambi beberapa waktu lalu mengatakan, pihaknya bisa memaklumi kebutuhan Arnas. Ia juga memberi apresiasi atas semangat Arnas yang tak mau menyerah meski kedua kakinya cacat.

“Wajar jika dia memohon bantuan sepeda motor modifikasi karena memang kendaraan itu yang cocok untuk yang bersangkutan. Sayangnya untuk tahun 2012 ini sudah tak ada lagi dan Insya Allah akan kita masukkan untuk program 2013,” katanya.(nasir nurdin/taufik zass)
 
 
http://aceh.tribunnews.com/m/index.php/2012/09/17/berharap-sepmor-modifikasi-untuk-mengajar-ngaji

Selasa, 04 September 2012

Aceh Memiliki SDA dan SDM Melimpah untuk Maju

Aceh Bisnis Selasa, 28 Agt 2012 07:20 WIB
MedanBisnis – Banda Aceh . Juru bicara Kaukus Pantai Barat – Selatan, TAF Haikal menyatakan optimis Aceh di bawah pimpinan Gubernur Doto Zaini Abdullah dan wakilnya Tgk Muzakir Manaf secara ekonomi akan mencapai kemajuan di masa mendatang.
Karena, selain Aceh memiliki segala sumber daya alam (SDA) yang
melimpah, juga memiliki sumber daya manusia (SDM) yang tangguh untuk
maju.

Menurut Haikal, kini saatnya Pemerintah Aceh mulai membangun ekonomi untuk membuat seluruh rakyat Aceh sejahtera. Apalagi Zaini – Muzakir punya modal yang luar biasa yaitu tekad dan optimisme yang tinggi untuk membangun Aceh secara seimbang.

Artinya, Aceh tidak hanya dibangun ke wilayah pantai timur, tetapi pemerintah perlu membangun wilayah barat – selatan hingga wilayah tengah sampai pedalaman Aceh, agar bisa mencapai kemajuan yang sama dengan daerah lain yang telah lebih dulu maju. 

“Itu adalah tekad dan spirit gubernur untuk membangun Aceh yang harus mendapat dukungan dari semua rakyat,” kata Haikal yang pernah terlibat dalam proses damai Aceh ini, Senin (27/8).

Ditegaskan, semua elemen masyarakat terutama pengusaha muda yang tersebar di kabupaten/kota akan mendukung gebrakan gubernur-wakil gubernur membangunan Aceh. 

Dukungan masyarakat dan pengusaha, kata Haikal, bukan tanpa alasan, mereka mendukung karena gubernur dan wakilnya memiliki tujuan perjuangan yang sangat jelas yaitu tekad memerdekakan rakyat Aceh dari kemiskinan dan kebodohan.

“Saya yakin gubernur tidak sendiri dalam membangun Aceh yang tidak hanya memiliki sumber daya alam, tetapi juga memiliki SDM berlimpah termasuk kalangan pers yang selalu siap mendukung Beliau dalam membangun daerah,” kata Haikal. 

Menurutnya, kemampuan dan kesetiaan orang Aceh sangat bagus, tidak perlu diragukan. Karena itu, dirinya sangat yakin kalau Aceh di bawah komando Zaini – Muzakir akan berkembang maju dalam lima tahun ke depan.

Namun bagi tenaga SDM yang ditempatkan membantu gubernur seperti pimpinan SKPA, asisten, kepala biro maupun staf ahli, Haikal menyarankan perlu penanganan yang baik dan selektif sehingga mereka yang terpilih adalah orang-orang yang mampu membantu kinerja sekaligus mampu membangun imej gubernur – wakil gubernur yang kuat di mata masyarakat maupun pemerintah pusat. 

Jangan Mengganggu
TAF Haikal mengakui,  SDM Aceh bagus-bagus tapi gubernur perlu berhati-hati dalam memilih pembantunya, karena jangan sampai orang yang diberikan kesempatan justru tidak mampu mengikuti rencana-rencana pembangunan yang sudah disusun secara baik oleh gubernur.

“Jangan nanti, udah tidak mampu, jangan pula merusak. Karena itu, perlu menempatkan orang-orang yang memiliki dedikasi, kompeten dan professional,” ujarnya.  

Dia juga menyarakan agar gubernur memberikan perhatian sekaligus pembinaan yang tidak terputus kepada pengusaha Aceh sehingga terbentuk SDM yang tangguh dan mereka mampu mengelola sumber daya alam. 

Jika hal itu mendapat perhatian pemerintah maka dirinya yakin, ajakan Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf agar pengusaha asal Aceh pulang kampung untuk ikut membangun dan meningkatkan perekonomian serta perdagangan daerah akan segera terwujud. Pasalnya, ini juga merupakan sebuah tanggung jawab moral bagi pengusaha-pengusaha asal Aceh yang hidup di rantau.

Apalagi ajakan wakil gubernur ini merupakan langkah tepat dalam upaya mensejahterakan masyarakat Aceh dan sekaligus membangun perekonomian di Aceh. 

“Jadi SDA dan SDM-nya seimbang. Keberadaan kedua sumber daya ini perlu pembinaan dan sentuhan tangan pemerintah agar menghasilkan tujuan yang lebih maksimal,” ujar Haikal.(ht anwar ibr riwat)


http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/08/28/112316/aceh_memiliki_sda_dan_sdm_melimpah_untuk_maju/

RAPI Banda Aceh Santuni 30 Yatim

Senin, 13 Agustus 2012 09:24 WIB
BANDA ACEH - Relawan komunikasi Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Kota Banda Aceh, Minggu (12/8) melaksanakan buka puasa bersama dirangkai dengan tausiah Ramadhan oleh Drs Abdul Syukur MAg dan penyaluran santunan untuk 30 anak yatim. Agenda rutin tahunan tersebut berlangsung di Sekretariat RAPI Kota Banda Aceh, Aula Lantai II Gedung Terminal Terpadu, Banda Aceh.

Pada acara buka puasa relawan RAPI tahun ini ikut berbaur Ketua DPRK Banda Aceh Yudi Kurnia bersama salah seorang anggota, Yusmaizal, Wakapolres AKBP Drs Sugeng Hadi Sutrisno, Pjs Pasi Ops Kodim 0101/BS Kapten Inf Ary Susetyo, Kakan Kesbang Kota Banda Aceh Syahrullah, dan Ketua RAPI Aceh T Feriansyah (JZ01BC) bersama jajaran pengurus provinsi.

Ketua RAPI Kota Banda Aceh, TAF Haikal (JZ01BTH) melaporkan, kegiatan itu sepenuhnya didukung anggota maupun simpatisan RAPI. Seperti biasanya, buka puasa bersama selain diikuti anggota bersama keluarga juga undangan dari Muspida Kota Banda Aceh dan lintas organisasi. “Tahun ini panitia berhasil menggalang bantuan dari internal anggota maupun simpatisan sehingga bisa melaksanakan kenduri ini,” katanya.(nas)
 
 
http://aceh.tribunnews.com/2012/08/13/rapi-banda-aceh-santuni-30-yatim

Sabtu, 11 Agustus 2012

Kawasan Barat dan Selatan Aceh Ideal untuk Industri Perikanan

Aceh Bisnis Kamis, 09 Agt 2012 07:55 WIB
MedanBisnis – Banda Aceh. Kawasan pesisir pantai barat dan selatan Aceh dinilai strategis dan ideal untuk pengembangan industri perikanan terpadu, kata Juru Bicara Kaukus Pantai Barat Selatan (KPBS) Aceh, TAF Haikal.
"Kawasan pesisir barat dan selatan Aceh memiliki banyak keunggulan dikembangkan investasi bidang perikanan sampai ke prosesing hasil tangkapan sumberdaya kelautan," katanya di Banda Aceh, Rabu (8/8).

Pesisir barat dan selatan Aceh meliputi beberapa kabupaten merupakan wilayah pegunungan dan perairan laut yang luas berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.  Untuk wilayah darat, Haikal menjelaskan, sangat potensial dibangun industri prosesing (hilir), misalnya pengolahan ikan sampai ke pengepakan (packing), selanjutnya dipasarkan baik untuk kebutuhan pasar dalam maupun luar negeri.

"Bahan baku untuk industri, seperti ikan itu tentunya dipasok dari hasil tangkapan nelayan di perairan laut wilayah pesisir barat dan selatan Aceh yang luas pantainya terbentang panjang hampir mencapai 500 kilometer," katanya menambahkan.

Haikal menjelaskan, jika pemerintah mewujudkan pesisir pantai barat dan selatan Aceh menjadi zona industri perikanan dan kelautan, maka akan memberi manfaat juga bagi upaya perlindungan kekayaan laut nelayan asing.

"Selama ini, nelayan asing sering menjarah ikan di perairan laut  barat dan selatan Aceh dikarenakan kemampuan nelayan lokal terbatas sarana tangkap, juga karena jika hasil tangkapan melimpah maka harganya anjlok disebabkan tidak tertampung pasar," katanya.

Haikal memastikan, jika pemerintah dan dunia usaha mau mewujudkan pesisir barat dan selatan Aceh menjadi kawasan industri perikanan dan kelautan terpadu, maka akan sangat membantu pertumbuhan ekonomi di propinsi ini.

"Kita tidak berharap investasi yang dilakukan di Aceh justru dapat menuai kekisruhan sosial yang mengandalkan kekayaan perut bumi semata. Konflik puluhan tahun harus benar-benar dijadikan pengalaman pahit dalam membangun Aceh," harapnya. (ant)

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/08/09/110204/kawasan_barat_dan_selatan_aceh_ideal_untuk_industri_perikanan/#.UCePVKDENAg

Selasa, 07 Agustus 2012

Ujung Tombak Tumpul, Eksekusi Mandul

Suatu hari menjelang senja di Pantai Ulee Lheue, Banda Aceh. Sebut saja nama Ghafur. Ghafur adalah salah seorang Komandan Regu Wilayatul Hisbah (WH) Kota Banda Aceh. Hari itu, bersama lima orang rekannya, Ghafur tengah melakukan razia khalwat di pantai yang kerap dijadikan muda-mudi untuk berbuat maksiat.
Dari jarak pandang yang relatif jauh. Ghafur melihat sebuah mobil mencurigakan. Samar-samar ia melihat dua sejoli yang tengah memadu kasih di dalam mobil itu. Untuk menghilangkan rasa penasaran, ia lalu mengajak kelima rekannya mendekati mobil itu. Benar saja, di dalam mobil tersebut ada yang tengah berkhalwat.
Ghafur lalu mengetuk kaca mobil tersebut. Saat perlahan-lahan kaca mobil itu diturunkan, ia tak melihat sedikit pun guratan wajah bersalah dari sepasang pelaku mesum itu. Justru Ghafur dibuat kaget. Ia diperlihatkan senjata api sejenis revolver oleh lelaki yang berada di dalam mobil.
“Ini (peluru) cukup untuk kalian ber-enam,” kata Ghafur menirukan perkataan lelaki itu.
Karena anggota WH tak dilengkapi senjata, maka Ghafur dan rekannya bergegas menjauhi mobil itu.
Pada fragmen lain, Mahyeddin Husra, warga Aceh, dibuat gusar ketika melihat belasan pasangan muda-mudi tengah berkhalwat secara massal di pinggiran Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Sabtu (4/6/2011) malam. Bahkan ada sepasang pelaku mesum itu terlihat berani saling merangkul dan menjamah anggota tubuh.
“Kalau begini, apa bedanya Aceh dengan Jakarta atau kota-kota lain? Negeri yang bersyariat kok seperti ini?” kata Mahyeddin kepada Suara Hidayatullah dengan suara lirih.
Tak tahan melihat kemungkaran di depan matanya, ia lalu menelepon kenalannya yang bertugas sebagai anggota WH. Di ujung telepon sana bukan respon baik yang diterima Mahyeddin, malah keluhan sang WH yang diterimanya.
“Dia (anggota WH tadi -red) bilang WH sudah payah. Tak sanggup dengan kondisi yang terbatas harus menertibkan pelaku maksiat yang semakin banyak,” ujar Mahyeddin menirukan suara yang didengarnya di ujung telepon.
Dari dua fragmen di atas terungkap sebuah fakta tentang ketidakberdayaan WH mengawal syariat. Akibatnya pelanggaran-pelanggaran qanun, seperti berkhalwat, mudah sekali ditemukan di daerah yang terkenal dengan sebutan Tanah Rencong itu.
Selain Pantai Ulee Lheue dan Lapangan Blang Padang, di sejumlah kedai kopi di Banda Aceh juga mudah ditemukan muda-mudi yang berkhalwat. Berdasarkan pengamatan Suara Hidayatullah, di jalan Soekarno-Hatta terdapat kedai-kedai kopi beratap langit tanpa alat penerangan yang sering dimanfaatkan untuk berbuat mesum.
Di jembatan Pante Pirak beda lagi. Jembatan yang hanya berjarak ratusan meter dari Masjid Raya Baiturrahman itu setiap malam Ahad berkumpul para anak baru gede (ABG). Bahkan di jembatan itu pernah dijadikan tempat kumpul anak-anak Punk, atau berandalan.
Ketika Suara Hidayatullah melintas di atas jembatan Pante Pirak, terlihat ada beberapa ABG perempuan yang tidak berjilbab. Mereka bercengkerama dengan teman-teman lelakinya tanpa jarak. Meski di sana-sini terjadi pelanggaran qanun, tetapi tidak terlihat petugas WH berpatroli.
Minim Dukungan
Keterbatasan yang dimiliki WH sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat Aceh. Kekurangan personil hingga pada persoalan minimnya anggaran operasional merupakan dinamika yang terjadi dalam pasukan pengawal syariat ini.
Komandan Operasional WH Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Teungku Adin mengatakan selama ini WH tidak mendapat dukungan penuh dari lembaga legislatif dan eksekutif. “Tidak ada dukungan dari para pihak yang membentuk WH. Termasuk dukungan fasilitas dan dana,” kata Adin saat ditemui Suara Hidayatullah di Kantor WH Provinsi NAD, Jalan T Nyak Arief Jambo Tape, Banda Aceh.
Adin mengaku, anggota WH sering terlibat bentrokan dengan oknum yang mengaku aparat saat melakukan penertiban. Sampai saat ini, kata Adin, belum ada anggota polisi ataupun tentara pelanggar qanun yang berhasil diproses hingga ke Mahkamah Sar’iyah (MS). Sehingga ada kesan jika qanun itu hanya berlaku bagi masyarakat sipil.
Belum Dieksekusi
Menurut data Mahkamah Sar’iyah Provinsi Aceh, kasus judi atau maisir menjadi jumlah terbanyak dalam perkara jinayat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 kasus judi yang tercatat dan masuk ke MS sebanyak 102 kasus. Sementara urutan kedua dan ketiga adalah kasus khalwat dengan 25 kasus dan khamar dengan 8 kasus.
Wakil Ketua MS Provinsi Aceh, Armia Ibrahim, SH, mengungkapkan angka-angka kasus di atas tidak semuanya tuntas sampai proses eksekusi. Tercatat sejak tahun 2005 sampai Oktober 2010 setidaknya ada 103 kasus jinayat yang belum dieksekusi (lihat tabel).
Penyebabnya, kata Armia, karena terdakwa sudah tidak ada di tempat. Pelaku tidak dapat ditahan, sehingga dengan leluasa melarikan diri. Selama ini pelaku pelanggar qanun tidak bisa ditahan (dipenjara) sampai vonis jatuh, karena memang belum ada aturan yang membolehkannya.
Seharusnya, jelas Armia, Qanun Hukum Acara Jinayat yang saat ini tertahan di tangan gubernur segera disahkan. Qanun yang sudah disahkan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) akhir 2009 lalu ini mengatur dibolehkannya penahanan pelaku.
Penyebab lainnya adalah persoalan teknis. Pihak eksekutor, dalam hal ini kejaksaan, masih berpikir sempit terkait tata laksana eksekusi.
“Mereka masih berpikir jika proses eksekusi harus menggunakan panggung, menyediakan konsumsi, dan honor untuk tim eksekutor. Malah, awal-awal dulu mereka yang menerima hukuman cambuk diberi uang dan kain sarung. Hal inilah yang membuat biaya jadi membengkak,” jelas Armia kepada Ibnu Syafaat dari Suara Hidayatullah awal Juni lalu di Banda Aceh.
Padahal, lanjut Armia, pelaksanaan eksekusi tidak harus seperti itu. Sederhana saja, asal memenuhi Peraturan Gubernur tahun 2005.
Tidak Berwibawa
Tidak bertajinya lembaga yang berperan sebagai ujung tombak penegakan syariat Islam, seperti WH dan Kejaksaan membuat banyak kasus-kasus pelanggaran qanun tidak ditindak. Kalaupun ditindak, jarang yang sampai ke proses eksekusi. Efeknya, kata Armia, wibawa hukum menjadi berkurang.
“Masyarakat bakal melihatnya seperti main-main. Ini bahkan bisa menjatuhkan penegak hukum karena kurang tegas,” ujar Armia.
Lemahnya lembaga eksekutor qanun ini juga dirasakan Teungku Muslim Ibrahim, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. “Sebaik-baiknya aturan, kalau tidak ada eksekutor maka percuma saja. Jadi persoalan eksekutor inilah yang saat ini masih kurang,” jelas Muslim.
Polisi Syariat
Untuk menuju terciptanya lembaga penegak hukum yang kuat dan berwibawa, TAF Haikal, Ketua Dewan Perwakilan Anggota Forum LSM Aceh mengusulkan agar Pemerintah Aceh melakukan gebrakan, seperti pembentukan polisi syariat.
Menurut Haikal, sebagai provinsi istimewa, Aceh memiliki perbedaan-perbedaan yang tidak dimiliki provinsi lain. “Kalau di daerah lain MUI (Majelis Ulama Indonesia -red), maka di Aceh disebut MPU. Kalau di provinsi lain DPRD, maka di Aceh disebut DPRA. Begitu juga dengan polisi. Kalau di daerah lain Polri, maka seharusnya di Aceh itu ada polisi syariat,” papar Haikal.
Polisi syariat yang dimaksud Haikal adalah polisi yang menggantikan peran Polri. Polisi yang dilengkapi persenjataan seperti halnya Polri.
Sementara, untuk mensiasati belum terbitnya Qanun Hukum Acara Jinayat, Kepala Seksi Bimbingan dan Penyuluhan Syariat Islam Dinas Syariat Provinsi NAD, Syukri Muhammad Yusuf, menawarkan jalan keluar.
“Karena belum ada aturan yang membolehkan penahanan pelaku, maka jalan keluarnya adalah sidang kilat. Cukup sehari. Misalnya pagi tertangkap tangan melanggar qanun, siang hadirkan hakim dan jaksa. Kemudian sore dieksekusi,” ujar Syukri. * SUARA HIDAYATULLAH, JULI 2011


http://majalah.hidayatullah.com/?p=2673

Sabtu, 04 Agustus 2012

Nakhoda dan Juru Mudi KM Artika Ditemukan

Kapal Tenggelam
Penulis : Mohamad Burhanudin | Sabtu, 4 Agustus 2012 | 10:44 WIB

shutterstock Ilustrasi
BANDA ACEH, KOMPAS.com — Lima dari 11 awak Kapal Mesin (KM) Artika yang tenggelam di perairan sebelah timur laut Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, ditemukan selamat, Jumat (3/8/2012) sore. Dari lima orang yang ditemukan itu, dua di antaranya adalah nakhoda dan mualim kapal.
Mereka ditemukan di perairan Pulau Rondo, Sabang, sekitar 50 mil dari lokasi awal kapal bermuatan 325 ton beras dan 2 ton bawang serta terigu itu tenggelam.
Data yang diperoleh Kompas dari pantauan Radio Antar-Penduduk Indonesia (RAPI) Banda Aceh menyebutkan, lima orang yang ditemukan itu adalah Riswal (nakhoda), Iskandar (juru mudi), Jais (mualim), jailani (chip), dan Idham (juru mudi).
"Kelimanya dievakusi ke posko penjemputan di Teluk Sabang," kata Ketua RAPI Banda Aceh Taf Haikal yang memantau melalui fasilitas repiter RAPI Sabang, Jumat malam.
Dengan demikian, masih ada sekitar enam awak yang belum ditemukan. Penemuan lima awak kapal tersebut oleh masyarakat Sabang menggunakan kapal pariwisata di Sabang.
Tenggelamnya kapal yang dalam manifesnya tertulis memuat 325 ton beras dan 2 ton bawang merah serta terigu tersebut diketahui kali pertama sekitar pukul 16.30, Kamis (2/8/2012) . Saat itu, salah seorang anak buah kapal (ABK) kapal sempat menghubungi petugas SAR Aceh di Banda Aceh. Kapal tersebut berangkat dari Penang, Malaysia, dengan tujuan Sabang.
Kerusakan pada lambung kapal dan ruang mesin pada kapal yang berkapasitas 199 gross ton itu diduga karena empasan gelombang laut dan badai. Cuaca buruk dalam beberapa waktu terakhir kerap menghampiri perairan Aceh.
Editor :
Agus Mulyadi
 http://regional.kompas.com/read/2012/08/04/10444160/Nakhoda.dan.Juru.Mudi.KM.Artika.Ditemukan