Kamis, 15 Oktober 2009

Terkait Pembangunan Jalan KPBS Minta USAID Bersikap Tegas

Serambi Indonesia, 6 Oktober 2009

BANDA ACEH - Kaukus Pantai Barat-Selatan (KPBS) meminta pihak USAID bersikap tegas tentang kelanjutan pembangunan jalan Banda Aceh-Calang, terutama pada ruas section IV yang sudah terhenti sejak 19 bulan. Persoalan ini penting bagi rakyat dan Pemerintah Aceh sehingga tidak terus berlarut-larut penderitaan yang dialami masyarakat pantai barat selatan.

Jubir KPBS, TAF Haikal didampingi dua tokoh mudah, Fadli Ali SE dan Imran Mahfudi SH kepada Serambi, Senin (5/10) mengatakan, kalau beberapa waktu lalu masih bisa dipahami bila USAID selaku penyadang dana pembangunan ruas jalan Banda-Calang menghentikan pekerjaan proyek di ruas jalan Section IV. “Ini terjadi menyusul diputusnya kontrak kerja dengan pihak PT WIKA sekitar 19 bulan lalu,” ungkapnya.

Penghentian pekerjaan dikarenakan belum selesainya persoalan yang terjadi di lapangan yang merupakan tanggung jawab pemerintah untuk menyelesaikannya, seperti masalah pembebasan tanah yang belum tuntas. “Tetapi setelah semua persoalan yang terjadi di lapangan tuntas diselesaikan pemerintah, ternyata USAID belum juga melanjutkan pekerjaannya. Maka kita semua menjadi heran dan ada apa dibalik semua ini,” ujar Haikal.

Ia mengatakan, masyarakat Aceh terutama di kawasan pantai barat-selatan menaruh harapan dan penghargaan pada Pemerintah Amerika ketika negera adidaya untuk menyatakan kesediannya membangun kembali jalan tersebut yang rusak akibat bencana 24 Desember 2004. “Berlarutnya proses penyelesaian pembangunan jalan tersebut membuat kami menjadi tersiksa, karena daerah kami masih terisolir akibat jalan belum selesai dibangun. Tolong USAID memperhatikan penderitaan rakyat yang membutuhkan pertolongan itu,” katanya.

Disisi lain TAF Haikal menyatakan dalam masalah ini USAID tidak hanya megubar janji akan melanjutkan pembangunan jalan tersebut. “Tetapi yang kami minta hari ini adalah ketegasan USIAD, melanjutkan kembali proyeknya atau tidak. Kami ingin jawaban tertulis soal itu dalam waktu dekat. Ini penting, karena menyangkut keputusan yang akan diambil Pemerintah Aceh dalam persoalan ini,” katanya.

Bila USAID tidak mau melanjutkan pembangunan jalan, maka Pemerintah Aceh harus segera mengambil inisiatif untuk mengusulkan dana ke pemerintah pusat melalui APBN 2010. “Kita butuh bantuan, tetapi kalau dipermaikan terus seperti ini jelas akan membuat kita tidak ada harga diri,” ujarnya. Sebelumnya pihak Pemerintah Aceh sudah mendesak USAID untuk melanjutkan kembali pembangunan jalan tersebut. Kadis Bina Marga dan Cipta Karya, Muhyan Yunan mengatakan, pihaknya sudah sering sekali menanyakan persoalan tersebut pada penanggungjawab lapangan USAID proyek jalan Banda Aceh-Calang, Roy. “Setiap kali ditanya, ia (Roy) secara lisan selalu mengatakan akan melanjutkan kembali pembangunan jalan tersebut,” katanya.(sup)

Senin, 12 Oktober 2009

KMAPGS Bersama Yayasan Sambinoe Aceh Turun Langsung ke Sumbar

Kisaran, (Analisa)

Koalisi Masyarakat Asahan Peduli Gempa Sumatera (KMAPGS), yang bergandengan dengan Yayasan Sambinoe Aceh sudah lebih dari dua hari berada di Sumatera Barat (Sumbar) guna membantu dan meringankan masyarakat yang terkena bencana alam.

Bahkan berdasarkan laporan yang diterima dari Aziz AR Panjaitan, yang merupakan salah seorang wartawan Asahan yang ikut serta dalam misi kemanusaiaan itu mengatakan, mereka telah mendirikan Posko Induk di Rumah Sakit Bersalin Aisyiyah, Jalan Abd Muis Taratak, Kota Pariaman.

"Kami mendirikan Posko Induk,"ungkap Aziz yang dihubungi Analisa, Minggu (11/10) melalui Hand Phone (HP).

Berkoordinasi dengan relawan lainnya, seperti dari Poros Kemanusiaan Aceh untuk Sumbar yang diketuai Taf Haikal, RSU Zainal Abidin Aceh, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala-NAD, Jaringan Kesejahteraan/ Kesehatan Masyarakat (JKM) Cabang Aceh dengan Direktur dr. Rais Husni Mubarok, Tim dari RS Bersalin Aisyiah Kota Pariaman-Sumbar, serta Posko Induk Muhammadiyah Kota Pariaman, sejak Jumat (9/10) turunke "mulut-mulut" bencana.

"Di sini kami memberikan bantuan dan pengobatan gratis ke pelosok-pelosok Korong atau desa-desa di sebelah utara Kabupaten Padang Pariaman, hingga keperbatasan Kabupaten Agam Lubuk Basung," paparnya.

Perjalanan sejak hari pertama tugas kemanusiaan itu bergerak melewati beberapa tempat dengan jarak tujuan 30 hingga 40 KM dari Kota Pariaman, seperti Sungai Limau, Sungai Garingging dan Kacamatan IV Koto Aur Malintang. Persisnya melewati kawasan obyek wisata Ikan Larangan di Batang Tiku, Kampung Apa Aur Malintang..

Dengan pemandangan pilu di sepanjang perjalanan, di mana hampir 80 persen rumah-rumah penduduk yang di lalui Sambinoe, hancur atau , setidak-tidaknya setiap rumah di wilayah itu mengalami keretakan yang cukup mengkhawatirkan.

Meskipun demikian, pihaknya bersama lembaga lainnya tidak sedikitpun surut untuk melakukan pertolongan khususnya di bidang kesehatan.

"Kami bergerak menuju desa-desa di puncak dan di balik bukit, meski harus melalui jalan rusak dan terjal," papar Aziz lagi.

Dipaparkannya, pertama kali gerakan sosial ini, Jumat (9/10) dilakukan pengobatan gratis kepada 84 warga mulai dari Balita hingga Lansia, Kampung Tangah, Korong Batu Basa, Nagari III Koto Aur Malintang, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, Kabupaten Padang Pariaman.

Diteruskan pada besok harinya, Sabtu (10/10) di Dusun I, Korong Durian Jantung, Nagari III Koto Aur Malintang, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, Kabupaten Padang Pariaman. Melayani 190 pasien, dengan Koordinator Lapangan dr. Lea (Aceh). Dibantu dr. Doddy Faisal Mahdi Pane (Asahan-Sumut), dr. T. Chik, dr. Yudiar, Arfan SKed, Hadi (Aceh), Muhammad Akhir Nasution dan Aziz AR Panjaitan (Asahan-Sumut). (aln)


http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=31337:kmapgs-bersama-yayasan-sambinoe-aceh-turun-langsung-ke-sumbar-&catid=51:umum&Itemid=31

Jembatan agar Dibangun

Pemprov NAD Perlu Segera Ambil Alih

Senin, 24 Agustus 2009 | 04:29 WIB

Banda Aceh, Kompas - Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam diminta mengambil alih pembangunan Jembatan Lambesoe di Kecamatan Lamno, Kabupaten Aceh Jaya, jika lembaga bantuan Pemerintah Amerika Serikat tidak sanggup melanjutkan pembangunan jembatan tersebut.

Hal itu dikatakan Ketua Komisi D yang membidangi masalah infrastruktur dan pembangunan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPR Aceh) Sulaiman Abda di Banda Aceh, Minggu (23/8).

”Pengambilalihan itu sangat dimungkinkan mengingat sudah beberapa tahun jembatan itu tidak dibangun oleh USAID (Badan untuk Pembangunan Internasional AS),” kata Sulaiman.

Sulaiman mengatakan, sudah beberapa tahun pembangunan Jembatan Lambesoe, salah satu jembatan inti yang menghubungkan kawasan pantai timur dan pantai barat-selatan Aceh, tidak kunjung usai. Pembangunan jembatan tersebut terhenti sejak tahun 2008.

Lebih lanjut, politisi dari Partai Golkar ini mengatakan, dirinya sudah berkali-kali meminta kepada pihak USAID untuk melanjutkan kembali pembangunan yang terhenti sejak beberapa tahun lalu. Berbagai permasalahan yang sempat menghentikan pelaksanaan proyek pembangunan jembatan tersebut, seperti permintaan uang dari kelompok tertentu senilai Rp 150 juta dan pembebasan lahan warga, sudah tidak menjadi masalah lagi.

”Semuanya sudah tidak menjadi masalah lagi bagi pelaksana proyek. Pembebasan lahan sudah ditangani oleh pemerintah provinsi. Seharusnya, proyek sudah berjalan seperti biasa,” katanya.

Pembangunan jembatan tersebut mendesak dilakukan karena Jembatan Kartika-Jembatan Bailey yang dibangun Batalyon Zeni Tempur 1 Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat saat ini tidak mampu dilewati lagi oleh truk angkutan barang dan bus. Hanya kendaraan pribadi dan kendaraan roda dua serta angkutan penumpang yang bisa melintasi jembatan itu.

Angkutan barang, seperti sembilan bahan kebutuhan pokok dan kebutuhan untuk pembangunan di pantai barat-selatan lainnya, tidak bisa lewat kalau air sungai naik.

Hal yang sama juga diutarakan juru bicara Kaukus Pantai Barat Selatan, TAF Haikal. Dia mengatakan, Pemprov NAD beserta dinas-dinas terkait harus serius menangani hal ini.

Haikal menjelaskan, untuk mencapai kawasan pantai barat-selatan, ada tiga jalur yang bisa digunakan. Namun, semuanya dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.

Jalur tengah yang bisa dilewati, yaitu jalur Banda Aceh-Meulaboh via Tangse, rawan longsor pada musim hujan seperti sekarang ini.

Kondisi alam, disertai dengan tanjakan yang curam dan jalan yang sempit, membuat jalur ini sangat sulit dilewati oleh truk- truk berat. Ditambah lagi dengan kondisi jalan yang berlubang.

Truk dan angkutan barang yang memilih melalui jalur Medan-Subulussalam-Tapaktuan masih harus membatasi tonase beban yang dibawanya. (MHD)


http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/08/24/04294043/.Jembatan.agar.Dibangun.

Minggu, 04 Oktober 2009

Aceh Buka Posko Kemanusiaan untuk Korban Gempa Padang

Sabtu, 03 Oktober 2009 | 16:07 WIB

TEMPO Interaktif, Banda Aceh - Para aktivis Aceh membuka sebuah posko kemanusiaan untuk mengumpulkan bantuan bagi korban gempa di Sumatera Barat. Posko itu diberi nama, Poros Kemanusiaan Aceh untuk Sumatera Barat.

Hal itu disampaikan oleh Taf Haikal, Koordinator Poros tersebut, Sabtu (03/10) di Banda Aceh. ”Mendengar kabar gempa dahsyat di Sumater Barat, elemen sipil Aceh langsung menggelar rapat mendadak. Kami lalu membuka posko,” ujarnya. Haikal adalah salah satu aktivis Aceh yang kehilangan keluarganya saat tsunami Aceh lima tahun silam.

Menurutnya posko dipusatkan di Kantor Forum LSM Aceh. Berbagai elemen tergabung dalam Poros ini, selain kalangan LSM, juga berbagai organisasi masyarakat, mahasiswa dan individu.

Posko bertugas menghimpun dana untuk disalurkan bagi korban gempa yang saat ini tinggal di tenda-tenda darurat di Sumatera Barat. “Kita juga telah mengirimkan beberapa relawan ke sana,”ujar Haikal.

Kata Haikal, aksi itu dilakukan sebagai bentuk empati yang besar terhadap korban bencana di seluruh daerah. Poros Kemanusiaan Aceh sebelumnya juga ikut membantu korban gempa Jogjakarta dan Jawa Tengah.

“Bagi kami, gempa dan tsunami di Aceh memberikan pelajaran penting, betapa rasa kemanusian menjadi pengikat silaturrahmi umat manusia. Rasa kamanusian ini harus tetap kita tumbuh kembangkan. Cukup banyak bantuan yang mengalir ke Aceh waktu itu. Selayaknya, kita juga melakukan hal yang sama, membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” ujar Taf Haikal.

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/10/03/brk,20091003-200622,id.html

Sabtu, 03 Oktober 2009

Poros Kemanusiaan Aceh Galang Dana Gempa Sumbar

Banda Aceh, (Analisa)

Poros Kemanusiaan Aceh yang dimotori elemen sipil membuka posko untuk menggalang dana bagi korban bencana gempa bumi di Sumatera Barat (Sumbar), beberapa hari lalu.

"Kami telah membuka posko beralamat di Jalan T Iskandar No 56, Lambhuk, Banda Aceh, untuk penggalangan dana kepada semua elemen yang ikut bersimpati pada korban gempa di Sumbar. Poros kemanusiaan Aceh untuk Sumbar juga akan membuka rekening khusus yang akan menghimpun dana-dana kemanusiaan. Kami akan siap menampung, menghimpun bantuan dan akan disalurkan kepada korban gempa di sana," ujar Koordinator Poros Kemanusiaan Aceh, TAF Haikal, Jumat (2/10).

Dijelaskan, setelah mendengar kabar gempa dahsyat di Sumbar, elemen sipil Aceh langsung menggelar rapat mendadak. Dalam pertemuan yang dilakukan di Kantor Forum LSM Aceh memutuskan untuk membuka posko kemanusiaan Aceh untuk Sumbar.

Berbagai elemen tergabung dalam poros ini. Bukan hanya kalangan LSM, tetapi berbagai ormas, mahasiswa dan individu juga bergabung dalam aksi kemanusiaan ini. Posko ini akan menghimpun dana untuk disalurkan bagi korban gempa yang saat ini tinggal di tenda-tenda darurat. Dalam waktu spontan dalam rapat yang digelar, poros kemanusiaan Aceh untuk Sumbar berhasil mengumpulkan dana Rp2,7 juta.

"Aksi spontan ini kami lakukan sebagai rasa empati yang besar terhadap korban bencana di seluruh daerah. Hal yang sama sudah dilakukan oleh poros kemanusiaan Aceh untuk membantu korban gempa Yogya dan Jateng beberapa waktu lalu. Kami berharap aksi solidaritas ini menjadi semangat baru dalam memberikan perhatian bagi setiap bencana yang ada di berbagai daerah," kata Haikal.

Menurutnya, gempa bumi dan tsunami di Aceh beberapa tahun lalu, memberikan pelajaran penting, betapa rasa kemanusiaan menjadi pengikat silaturahmi umat manusia.

"Rasa kamanusiaan ini harus tetap ditumbuhkembangkan. Cukup banyak bantuan yang mengalir ke Aceh waktu itu. Maka selayaknya, kita juga melakukan hal yang sama, membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah," terangnya.

Poros kemanusiaan Aceh untuk Sumbar juga menjajaki pelaksanaan konser amal. Konser ini akan menghadirkan para musisi papan atas Aceh dan elemen pegiat seni lainnya. Diharapkan dengan konser ini akan dapat menghimpun bantuan kemanusiaan untuk korban gempa Sumbar.

"Berbagai upaya terus kami lakukan untuk menggalang solidaritas segenap lapisan masyarakat Aceh. Kami berharap, sekecil apapun kontribusi kita berikan akan sangat berarti bagi saudara kita yang sedang tertimpa musibah," sebutnya. (mhd)

http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=30459:poros-kemanusiaan-aceh-galang-dana-gempa-sumbar-&catid=42:nad

Jumat, 02 Oktober 2009

Pemerintah Aceh Kirim Tim Relawan ke Sumbar

Media Serambi Indonesia
2 October 2009, 14:22 Utama Administrator

Poros Kemanusiaan Aceh Galang Dana Gempa Sumbar

BANDA ACEH - Respons Pemerintah Aceh terhadap penderitaan masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) akibat diguncang gempa berkekuatan 7,6 skala Richter langsung diperlihatkan dengan mengirimkan tim relawan sosial gelombang pertama yang dilepas oleh Wagub Aceh, Muhammad Nazar, Kamis (1/10). Tim berkekuatan 25 personel dari berbagai unsur itu bergerak ke lokasi bencana dengan konvoi angkutan darat, pukul 21.00 WIB tadi malam.

Tim relawan sosial yang dikirim Pemerintah Aceh untuk gelombang pertama terdiri atas Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinsos Aceh sebanyak 20 orang, relawan komunikasi dari RAPI Wilayah 0101 Kota Banda Aceh tiga orang, dan dua orang dokter dari RSU Zainoel Abidin Banda Aceh. “Misi mereka bukan hanya memberikan pertolongan di lokasi bencana tetapi juga membawa armada bermuatan bahan-bahan makanan masa panik, sekaligus melihat secara langsung bagaimana kondisi di lapangan,” kata Wagub Aceh, Muhammad Nazar didampingi Kadis Sosial Aceh, Ridwan Sulaiman di sela-sela proses penglepasan tim relawan di depan rumah dinas Wagub, kemarin.

Wagub berharap relawan yang dikirim ini mampu bekerja dengan baik dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Dengan begitu kehadiran tim relawan sosial kemanusiaan Provinsi Aceh ke Sumbar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga yang tertimpa musibah. Wagub Aceh bersama rombongan dijadwalkan akan menyusul ke Sumbar pada Sabtu (3/10) pagi untuk memberikan bantuan untuk korban gempa di sana.

Sebelumnya, Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dalam pesan singkatnya, Kamis (1/10) pukul 01.15 dini hari, meminta Wagub Aceh untuk segera mengantar bantuan dalam bentuk material maupun relawan kemanusiaan ke Sumatera Barat. Pesan singkat yang ditujukan kepada Wagub Aceh dan turut ditembuskan ke Serambi itu, dikirim Irwandi beberapa saat sebelum keberangkatannya ke California untuk menghadiri acara pertemuan Gubernur se-dunia mengenai perubahan iklim global di, 1-2 Oktober 2009 di Los Angeles, Amerika Serikat. Gubernur juga berpesan agar Wagub Aceh untuk menyiagakan dokter-dokter dan perawat guna membantu penderitaan masyarakat korban gempa Sumbar. “Tentunya setelah Anda berkomunikasi dengan pejabat Sumbar,” pesan Irwandi.

Gerakan elemen sipil
Selain respons Pemerintah Aceh, berbagai elemen sipil di daerah ini juga mulai melancarkan aksi penggalangan dana kemanusiaan untuk disalurkan kepada korban bencana. Seperti yang dilakukan Poros Kemanusiaan Aceh untuk Sumbar yang di dalamnya termasuk LSM, organisasi masyarakat, mahasiswa dan individu. Poros Kemanusiaan Aceh, kemarin menggelar rapat mendadak di ‘markas’ Forum LSM Aceh, Jalan T Iskandar 56, Lambhuk, Banda Aceh. “Poros Kemanusiaan Aceh sepakat untuk melakukan aksi kemanusiaan penggalangan dana untuk Sumbar,” kata Koordinator Poros Kemanusiaan Aceh, TAF Haikal dalam siaran pers-nya.

Menurut Haikal, Poros Kemanusiaan Aceh akan membuka posko untuk menghimpun dana guna disalurkan untuk korban gempa Sumbar. Pada pertemuan awal kemarin, Poros Kemanusian Aceh untuk Sumbar berhasil mengumpulkan dana spontan Rp 2.700.000. “Kami juga akan melakukan penggalangan dana kepada semua elemen yang ikut bersimpati pada korban gempa Sumbar. Juga direncanakan untuk menggelar konser amal,” ujarnya.

Seruan HUDA
Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) mengimbau seluruh masyarakat Aceh memberikan bantuan, baik materi maupun doa untuk keselamatan para korban gempa di Sumbar. “Bantuan materi dalam bentuk apapun bisa dikumpulkan di masjid-masjid yang nantinya akan dikirimkan kepada saudara kita yang tertimpa musibah,” tulis Tgk H Faisal Ali, Sekjen HUDA, dalam siaran persnya kepada Serambi, Kamis (1/10).

Tim BSMI
Sementara itu Yayasan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Cabang Banda Aceh, Kamis (1/10), mengirimkan tim kemanusiaan ke Sumbar. Tim terdiri atas seorang dokter, seorang ahli kesehatan gizi dan makanan, seorang paramedis dan satu orang tenaga ahli logistik dan maintenance. “Mereka berangkat menggunakan mobil ambulance lapangan membawa obat-obatan dan tenaga medis serta sembako, obat-obatan, pelayanan kesehatan, pakaian, dan sebagainya. Inilah bentuk solidaritas kepada saudara kita yang terkena musibah,” ujar Public Relation BSMI Banda Aceh, Dedi Fitriady. BSMI juga membuka Posko Penggalangan Bantuan BSMI untuk Sumbar. Posko berlokasi di RSU Bulan Sabit Merah Indonesia Banda Aceh, Jalan Sultan Malikul Saleh 17 Lamlagang. Telepon 0651-638701/CP Koordinator Posko Bantuan 0852-77825168.

Respons Aceh Selatan
Pemkab dan Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana Aceh Selatan menyatakan akan mengirim tim relawan untuk membantu korban gempa di Sumbar. Bupati Aceh Selatan, Husin Yusuf, kepada Serambi, Kamis (1/10) mengatakan, pemerintah dan masyarakat Aceh Selatan bersimpati atas musibah yang menimpa masyarakat Sumbar. “Saya dan masyarakat Aceh Selatan menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada korban gempa di Sumbar. Kami juga akan segera mengirim tim relawan untuk membantu korban di sana,” kata Husin Yusuf.(tz/dwi/az)

http://www.serambinews.com/news/pemerintah-aceh-kirim-tim-relawan-ke-sumbar

Kamis, 17 September 2009

Jalur Arus Lalulintas Alternatif Dipadati Pemudik

Daerah 18-09-2009

MedanBisnis – Banda Aceh
Arus lalulintas menuju pantai barat selatan Aceh melalui jalur alternatif Tangse-Tutut mulai dipadati pemudik yang menggunakan berbagai jenis kendaraan.
“Sejak Rabu (16/9) arus melalui jalur Tangse-Tutut mulai ramai, baik yang menuju ke wilayah pantai barat selatan maupun sebaliknya,” kata seorang sopir angkutan umum L300, Surya Darma (35) di Banda Aceh, Kamis.
Banyak pemudik dari arah Banda Aceh dan beberapa daerah di pantai utara dan timur Aceh menuju ke kabupaten/kota di pantai barat selatan itu menggunakan sepeda motor, umumnya mereka berkelompok antara tiga hingga belasan kendaraan roda dua.
“Lebih banyak kendaraan roda dua dan empat menuju ke pantai barat selatan dibandingkan dengan jumlah kendaraan yang menuju ke Banda Aceh atau ke pantai timur dan utara Aceh,” katanya.
Juru bicara Kaukus Pantai Barat Selatan (KPBS) TAF Haikal meminta para pemudik yang menggunakan jalur alternatif dari Ibukota Provinsi Aceh ke kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Simeulue, Aceh Selatan, kota Subulussalam dan Aceh Singkil agar berhati-hati selain jalan berliku-liku juga licin terutama pada musim hujan.
“Jalan alternatif yang baru diperbaiki itu masih rentan terjadinya kecelakaan lalu lintas, selain jalan berliku dan licin juga masih sangat minim rambu-rambu,” katanya.
Pada ruas jalan yang baru diperbaiki itu juga masih terdapat beberapa titik yang rawan longsor seperti di penggunungan Geumpang dan Tutut.
Mantan Direktur Eksekutif LSM Aceh itu mengatakan warga masih dominan melakukan perjalanan melalui jalur alternatif Tangse-Tutut sebab jalur utama Banda Aceh-Calang yang hancur akibat bencana tsunami 2004 hingga kini belum selesai pembangunannya.
“Jalan Banda Aceh-Aceh Jaya yang didanai USAID mulai dari Lamno hingga Calang masih sulit dilalui terutama pada musim hujan, karena jalannya licin dan berlumpur,” kata Haikal.
Selain jalur utama menuju ke pantai barat selatan itu masih harus menggunakan rakit penyeberangan untuk melintasi sungai Lambeuso dan Kuala Unga akibat belum selesainya pembangunan jembatan. (ant)


http://www.medanbisnisonline.com/2009/09/18/jalur-arus-lalulintas-alternatif-dipadati-pemudik/